Minggu, 29 Januari 2012

PROPOSAL PEMUGARAN RUMAH TIDAK LAYAK HUNI


PROPOSAL
PEMUGARAN RUMAH TIDAK LAYAK HUNI
DESA KEDUNGWUNGU KECAMATAN JATINEGARA
 KABUPATEN TEGAL


A.    PENDAHULUAN
Pemugaran rumah tidak layak huni adalah merupakan salah satu program pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan penduduk Desa, kondisi rumah di Desa Kedungwungu sebagian belum memenuhi standarisasi rumah sehat dan bersih, maka dengan ini sangatlah diperlukan pemugaran rumah tidak layak huni tersebut, sehingga masyarakat dapat meningkatkan taraf hidup yang layak juga bias meningkatkan ekonomi. Dan perlu diketahui bahwa kemampuan swadaya masyarakat masih belum mencukupi untuk kepentingan dimaksud, maka Kami sangat mengharapkan bantuan dari Pemerintah Propinsi Jawa Tengah.

B.     TUJUAN
Tujuan pemugaran rumah pra sejahtera yaitu :
1.      Membantu dan meringankan beban keluarga tidak mampu.
2.      Menciptakan rumah sehat dan bersih.
3.      Menciptakan kesemangatan kegiatan rutinitas keluarga tidak mampu.
4.      Menciptakan rasa gotong royong.

C.     PERMASALAHAN
Dalam upaya merealisasikan pemugaran rumah tidak layak huni yang merupakan harapan bagi masyarakat Desa Kedungwungu Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal, dihadapkan pada permasalahan yang ada yaitu terbatasnya tingkat kemampuan swadaya, hal tersebut mengingat kondisi ekonomi masyarakat Desa Kedungwungu yang tidak memungkinkan.Untuk itu di harapkan pada seluruh potensi yang ada baik masyarakat, Pemerintah melalui Dinas terkait dan pihak lain yang berkompeten sebagai donatur agar turut serta memberikan bantuan baik material maupun lainnya. Untuk itu sangatlah Kami harapkan Bantuan dari Bapak Gubernur Jawa Tengah tahun anggaran 2011 untuk warga tidak mampu.

D.    POKJA DAN JUMLAH PENERIMA BANTUAN
Sesuai hasil musyawarah Desa Kedungwungu Kedungwungu Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal pada Tanggal 25 Maret 2011 telah terbentuk pokja pemugaran rumah tidak layak huni dengan SK Kepala Desa Kedungwungudengan komposisi sebagai berikut :

POKJA
Penanggung Jawab
Pengarah
Ketua
Sekretaris
Bendahara
Seksi Teknis

Anggota

:
:
:
:
:
:

:

Kepala Desa Kedungwungu
BPD
MUAMAR,A.Ma                    
M.Wari
Mukholad
Moh.Sugeng,S.Pd
Maryono
Sustari
Mustaim












E.     RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan Pemugaran Rumah tidak layak huni akan dilaksanakan secara swakelola Masyarakat, adapun waktu pelaksanaan sebagai berikut :
Pelaksanaan kegiatan
Waktu yang dibutuhkan
Ø  Persiapan
Ø  Belanja Material
Ø  Pelaksanaan
Ø  Pelaporan
:
:
:
:
:
:
Bulan Juni – Juli 2011
26 hari
Tanggal 5 s/d 9 Juni
Tanggal 10 s/d 15 Juni
Tanggal 20 Juni s/d 15 Juli
Akhir bulan Juli 2011


F.      MANFAAT KEGIATAN
Diharapkan Bantuan tersebut sangat bermanfaat khususnya bagi warga penerima bantuan, sehingga dapat menumbuh kembangkan rutinitas kegiatan secara positif yang berdampak pada pertumbuhan kesejahteraan masyarakat secara umum.
Demikian gambaran singkat tentang rencana kegiatan pemugaran rumah tidak layak huni di Desa Kedungwungu Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal. Ahirnya Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kebijakan dari Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dengan harapan bantuan yang diberikan akan bermanfaat bagi warga tidak mampu.

Kedungwungu, 05 April 2011

Ketua Pokja




MUAMAR,A.Ma


Mengetahui,

Kepala Desa Kedungwungu




MUCHARI,S.PdI.

Ketua LKMD Kedungwungu




MUHAFID


Camat Jatinegara





PIMPIN SURONO H.,SH. M. Si
NIP. 19600707 199252 1 001

SUSUNAN KEANGGOTAAN
 KELOMPOK KERJA PEMUGARAN RUMAH TIDAK LAYAK HUNI
DESA KEDUNGWUNGU KECAMATAN JATINEGARA
 KABUPATEN TEGAL


No
Nama
Kedudukan dalam panitia
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9

Muchari,S.Pd.
Mustakim
MUAMAR,A.Ma                    
M.Wari
Mukholad
Moh.Sugeng,S.Pd
Maryono
Sustari
Mustaim

Penanggung Jawab
Pengarah
Ketua
Sekretaris
Bendahara
Seksi Teknis
Seksi Teknis
Anggota
Anggota


                                                                                                Kepala Desa Kedungwungu



                                                                                                MUCHARI,S.PdI.

Berita Acara Musyawarah Desa

Pada hari ini Senin Tanggal dua Puluh Lima Maret dua ribu sebelas, bertempat di Balai Desa Kedungwungu Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal telah diadakan musyawarah dengan dihadiri sebagai mana daftar hadir terlampir. Adapun hasil musyawarah sebagai berikut :
1.      Peserta Musyawarah sepakat untuk merencanakan kegiatan pemugaran rumah tidak layak huni sebanyak 5 (lima) keluarga miskin / kurang mampu.
2.      Menetapkan calon penerima bantuan pemugaran rumah tidak layak huni sebagai berikut :
a.       Nama         : Wasmi  RT   09   RW 02
b.      Nama         : Ahya     RT   03  RW  02
c.       Nama         : Sanad    RT  10  RW 02
d.      Nama         : Taryu    RT  03  RW 01
e.       Nama         : Nayem   RT: 05 Rw: 01
3.      Membentuk kelompok kerja yang selanjutnya akan ditetapkan Surat Keputusan Kepala Desa dengan komposisi POKJA sebagai berikut :

Penanggung Jawab
Pengarah
Ketua
Sekretaris
Bendahara
Seksi Teknis

Anggota
:
:
:
:
:
:

:
Kepala Desa Kedungwungu
BPD
MUAMAR,A.Ma
M. Wari
Mukhollad
Moh. Sugeng,S.Pd
Ali Usman
Mustaim
Nasipa



Ketua POKJA
Tokoh Pemuda
Tokoh Pemuda
Tokoh Pemuda
Perangkat Desa
Tokoh Masyarakat
Perangkat Desa

4.      Melaksanakan kegiatan dengan swakelola masyarakat yang didukung dengan swadaya masyarakat sebagai bentuk partisipasi.

Demikian berita acara ini dibuat agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Ketua POKJA




MUAMAR, A. Ma

Mengetahui,

Ketua
LKMD  Kedungwungu




MUHAFID
Kepala Desa Kedungwungu




MUCHARI, S. PdI


DAFTAR HADIR MUSYAWARAH DESA
DESA KEDUNGWUNGU KECAMATAN JATINEGARA KABUPATEN TEGAL
Tanggal:                    2011

No
Nama
Jabatan
Tanda Tangan
1


1
2


2
3


3
4


4
5


5
6


6
7


7
8


8
9


9
10


10
11


11
12


12
13


13
14


14
15


15
16


16
17


17
18


18
19


19
20


20
25


25
22


22
23


23
24


24
25


25





Senin, 23 Januari 2012

daftar calon penerima TF


DAFTAR USULAN CALON PENERIMA SUBSIDI TUNJANGAN FUNGSIONAL BAGI GURU BUKAN PNS (STF-GBPNS) TAHUN 2011








No Nama (Lengkap dengan Gelar) Tempat /Tanggal Lahir L/P Nomor dan Tanggal SK Pengangkatan sebagai Guru Tetap Lama Mengajar (Tahun) Bidang Studi yang Diampu) Beban Kerja Keseluruhan
1 Jamroni, SE Tegal 01-02-1980 L 41/YMU/VII/2004 7 BK 24 jam
2 Mirqon, SHI Tegal 05-05-1979 L 09/394/SK.1/07/2003 6 BHs. INDONESIA 24 jam
3 Abdul Jalil, SE Tegal 10-10-1971 L 28/YMU /B/VII/2000 11 IPS 24 jam
4 Istu Rahayu, A.Ma Banyumas, 21-12-1978 P 17/YMU /B/VII/1997 14 BAHASA INGGRIS 24 jam
5 Muamar A.Ma Tegal 15-05-1978 L 25/YMU /B/VII/2000 8 SKI 24 jam
6 Muchari,S.PdI Tegal 05-09-1963 L 26/YMU /B/VII/2000 11 QUR'AN HADITS,QIROATUL QUR'AN 24 jam
7 Agus Kholik A.Ma Tegal 27-04-1981 L 27/YMU /B/VII/2000 12 MATEMATIKA 24 jam
8 Anisawati S.PdI Tegal 03-08-1984 P 38/YMU /B/VII/2000 8 IPA 24 jam
9 Muta’alim,S.PdI Tegal 26-12-1980 L 51/YMU /B/VII/2005 6 ASWAJA,PENJASORKES 24 jam
10 Takhroni Tegal 08-10-1967 L 14/YMU/B/VII/1996 15 BAHASA ARAB 24 jam
11 H. Ali Mufti Tegal 05-01-1953 L 14/YMU /B/VII/1990 22 AKIDAH AKHLAK 24 jam
12 Sopro’i Tegal 04-05-1965 L 22/YMU /B/VII/1999 12 FIKIH 24 jam
13 M. Wari Tegal 01-06-1984 L 52/YMU /B/VII/2008 3 TIK, 24 jam
14 Yasroh,S.Pd. Tegal 14-06-1986 L 56/YMU /B/VII/2008 3 BAHASA INDONESIA,BAHASA JAWA 24 jam
15 Mukholad Tegal 10-10-1986 L 50/YMU /B/VII/2005 3 KESENIAN 24 jam














Kedungwungu,14  Juni 2011






Kepala MTs mambaul Ulum






































MOH. SUGENG,S.Pd

Minggu, 22 Januari 2012

fiksi tuhan berkehendak lain

Kami menjalani kehidupan berkeluarga dengan beragam peristiwa dan pengalaman. Winih, seperti yang kuduga, begitu mandiri. Tidak seperti perempuan Jawa kebanyakan, Winih tidak pernah bersikap ‘sendika dhawuh’ ataupun ‘swarga nunut neraka katut’. Winih tegas, bahkan keras jika memang ada yang tidak benar menurutnya. Kadang kala kami bertengkar karena perbedaan itu, namun kami selalu bisa belajar dari segala kekurangan dan kelebihan kami sehingga pertengkaran itu tidak merusak perkawinan kami.

Dua tahun setelah pernikahan itu, Winih hamil. Anak pertama kami lahir, bayi perempuan yang cantik, pada saat yang bersamaan dengan datangnya sepucuk surat dari Solo. Winih diminta datang ke Solo untuk mengikuti pembentukan sebuah partai yang didirikan oleh teman–temannya dulu. Winih terdiam setelah membaca surat itu. Kentara sekali dia bimbang untuk memutuskan.

“Bagaimana pendapatmu, Hans?”

“Apa kata hatimu?” aku balik bertanya.

“Jika ini terjadi saat kita masih berdua, aku akan langsung memutuskan untuk kembali ke Indonesia, Hans. Tapi sekarang, sudah ada putri kita, bagaimana mungkin aku akan pergi meninggalkannya?”

“Win, selama ini aku menghormati dan mendukung setiap keputusan yang kau ambil. Kamu adalah istri dan wanita yang luar biasa. Kamu mandiri. Bahkan dalam banyak hal lebih dari wanita Belanda sekalipun. Dan sampai sekarang pun aku tetap bersikap sama. Jadi tinggallah di sini. Anak kita belum lagi berumur seminggu. Kamu pun masih lemah, harus banyak istirahat untuk memulihkan diri. Tunggulah sampai dirimu dan terutama anak kita kuat. Aku berjanji, jika saat itu datang, kita akan bersama-sama ke Indonesia.”

Mata Winih langsung berbinar, ”Sungguh, Hans?”

Dan kami pun berpelukan.

Yosephine Leonie Petersen, begitu anak itu kami beri nama. Dia tumbuh dengan sehat dan  makin pintar. Kentara sekali dia mewarisi banyak hal dari kami. Dari segi fisik dia lebih mirip aku dengan kulit yang putih, rambut yang kemerahan, dan biji mata yang kecokelatan. Tapi, dari segi sifat, sepertinya dia berkembang lebih mirip ibunya. Kemauannya keras. Jika permintaannya tidak dikabulkan, dia akan melakukan protes dengan tidak mengacuhkan orang yang diprotesnya. Dia jarang melakukannya dengan menangis. Kami bahagia dengan kehidupan kami.

Namun, kepedihan itu datang juga. Ketika Onie berumur menjelang dua tahun, dua bulan sebelum rencana keberangkatan kami ke Indonesia, Winih jatuh sakit. Sakitnya berkepanjangan sampai menggerogoti kebugaran fisiknya. Winih menjadi kurus dan lemah. Bahkan, untuk bernapas pun sangat lemah. Aku sudah berusaha membawanya ke dokter dan rumah sakit terbaik, namun keadaannya selalu naik-turun. Terkadang membaik, tapi bisa dengan tiba–tiba drop.

Aku sempat kelimpungan untuk mengurus Winih dan Onie bersamaan. Pekerjaanku menjadi kacau. Untunglah seorang tanteku mau meminjamkan pembantunya untuk mengurus Onie. Karena kondisi Winih masih tidak pasti, aku memutuskan untuk membatalkan rencana pulang ke Indonesia. Tapi, Winih tidak setuju. Dia bersikeras harus pulang. Alasannya, dia merasa akan lebih terbantu untuk sembuh, bila berada di kampung halamannya. Akhirnya aku menyerah. Ketika kondisi Winih membaik, kami berangkat ke Indonesia menggunakan kapal.

Dalam beberapa hari pelayaran tersebut kondisi Winih kembali naik-turun. Aku sempat cemas, namun Winih sangat keras kemauannya sehingga dia tetap sanggup bertahan. Setiap hari dia minta diberi tahu sudah sampai di mana karena menurutnya  makin dekat ke tujuan semangat hidupnya makin besar.

Perjalanan yang memakan waktu beberapa minggu tersebut akhirnya usai saat kapal kami merapat di pelabuhan Jakarta. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan kereta api menuju Solo. Sepanjang jalan kusaksikan Winih makin sehat. Wajahnya tak lagi pucat. Gerakannya makin lincah. Bahkan, dengan bersemangat Winih menceritakan sekaligus menunjukkan kepada Onie semua hal baru yang ditemuinya. Onie pun terlihat sangat ceria. Dia mengoceh tanpa henti sepanjang perjalanan. Aku sangat gembira melihat perkembangan ini.  Aku mulai yakin bahwa apa yang dikatakan istriku memang benar. Perjalanan kembali ke kampung halamannya ini akan mengobati penyakitnya.

Kami menginap di sebuah hotel di tengah Kota Solo. Pertemuan dengan teman–teman Winih baru akan berlangsung tiga hari lagi. Kesempatan ini kami gunakan untuk menjelajahi Solo dan sekitarnya. Benar-benar hari-hari yang membahagiakan buat kami sekeluarga.

Pada malam sebelum pertemuan dengan teman-temannya, tiba-tiba suhu tubuh Winih meninggi. Badannya panas sekali. Sesekali dia mengigau, memanggil namaku dan Onie. Aku cemas sekali. Pertemuan hari itu akhirnya dibatalkan. Teman-teman Winih hanya menjenguk sebentar untuk kangen-kangenan. Jika kondisi Winih benar-benar sudah pulih, mereka akan datang kembali. Waktu yang sekejap itu pun terasa sangat berarti untuk Winih. Dia benar-benar merasa sehat, meskipun kenyataannya secara fisik masih lemah. Namun, dia mengatakan bahwa dia benar-benar merasa sangat puas bisa bertemu dengan mereka.

Namun rupanya, Tuhan benar-benar berkehendak lain. Rencana-Nya kadang-kadang memang tak bisa dipahami. Sore harinya Winih kembali demam. Suhunya tak turun juga. Hatiku terasa tawar. Aku merasa kasihan, namun aku tahu aku tak mungkin serta-merta membantunya, meski aku sangat ingin. Winih tak suka dikasihani. Menjelang pukul sepuluh malam, Winih memanggilku. Aku mendekatkan telingaku.

“Hans, di mana Onie?“

“Onie sudah tidur, Win, di sofa. Tampaknya dia kelelahan.“

“Pasti kau juga lelah, ‚kan? Malah sangat lelah harus menjaga kami berdua. Maafkan aku, ya, Hans.“

“Itu tidak penting. Yang penting adalah kamu harus segera sembuh.“
Winih menggeleng.

“Itu pun sudah tidak penting lagi, Hans. Hanya dirimu dan Onie yang terpenting. Kalianlah yang menjadikan aku masih berani menawar kepada Tuhan untuk menunda panggilan-Nya.”

“Ya, Tuhan! Win, apa yang kau bicarakan?

”Hans, aku minta bawalah Onie kemari.”

Aku beranjak ke sofa dan mengangkat Onie yang masih terlelap. Dengan hati-hati kuletakkan di samping ibunya. Winih mengusap wajah mungilnya dan mencium keningnya. Kulihat air mata bergulir di sudut matanya. Badannya berangsur dingin dan matanya kemudian terpejam.

Wajah Winih sangat tenang. Tenang sekali. Matanya terpejam. Bibirnya merapat. Beberapa anak rambutnya mengurai di belakang telinga. Segalanya terasa ringan seperti tiada beban. Winih sudah pergi. Istriku tidak lagi menawar pada Sang Waktu.

Tahun 1967, aku kembali lagi saat rezim Orde Baru berkuasa. Pada waktu itu aku tidak datang sendiri. Aku sudah menikah lagi. Dia adalah putri atasanku di Belanda, dialah yang selama ini kamu kenal sebagai ibu dari Leonie.

Suzanne adalah gadis dari kalangan menengah dan terpelajar yang menyandang gelar sarjana hukum. Suzanne gadis cantik yang periang dan sangat cerdas. Aku pun makin menyukainya. Hanya, kadang-kadang aku masih dibayangi oleh wajah Winih. Aku mengalami pergumulan batin yang melelahkan untuk menentukan kata hatiku. Bagaimanapun, cintaku kepada Winih tak akan tergantikan.

Kami menikah di Rotterdam dan selama beberapa tahun kami menjalani pekerjaan kami sendiri. Aku di perusahaan konsultan yang dipimpin ayahnya dan Suzanne praktik sebagai pengacara. Kami mulai pindah tinggal di Indonesia setelah menangani proyek Bendungan Sempor di Gombong. Beberapa kali pindah sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengambil proyek terakhir di Wonogiri ini dan tinggal di Solo.

Ayahmu terdiam sebentar, Onie.  Perahu kami sudah mendekati lokasi proyek. Aku sudah mendengar suara-suara bising alat-alat proyek.  Ayahmu melambaikan tangannya kepada beberapa pekerja yang sedang mengangkut bahan-bahan bangunan.

“Pras, Le, di Solo ini aku menemukan hampir segalanya. Lepas dari rusuh dan bising kota. Dekat dengan makam Winih. Bersahabat dengan bapakmu.“

Kami merapat di dermaga proyek dan ayahmu dengan cekatan melompat mendahului semuanya. Aku masih termangu. Waktu lebih dari dua jam tak terasa demi mendengarkan cerita ayahmu. Sepertinya, segala yang kuketahui selama ini tentang keluargamu teraduk-aduk, seperti bejana yang dihancurkan menjadi tanah dan dibentuk kembali menjadi bejana baru yang sama sekali berbeda. Ser

FIKSI BERUJUNG BAHAGIA

(fiksi) Penantian Berujung Bahagia

Tak ada yang pernah tau, bahwa Om Aryo adalah cinta sejati Tante Raya. Mereka berpacaran sejak sama-sama duduk di bangku SMA. Hubungan terjalin secara sembunyi-sembunyi, karena Nenek tak pernah setuju dengan pilihan tante. Klise alasannya, karena Om Aryo berasal dari keluarga yang kurang mampu dan tidak sederajat.

“Ray, apa sih hebatnya anak itu !! Mama mau kamu sekolah dulu, terus kerja dan langsung nikah. Lagian anak itu bisanya apa ??” suara Nenek terdengar dari balik kamar. Saat itu aku baru kelas 5 SD, tapi selalu teringat. Tante Raya hanya tertunduk lesu, menatap keramik bermotif bunga tapi entah apa yang ada dalam pikirannya.

Nenek memang sangat otoriter, Mamaku saja harus selalu mengikuti kemauannya, sejak sekolah, kuliah, maupun urusan jodoh. Bibit-bibit keotoriterannya mulai mengenai aku, Nina si cucu pertamanya. Nenek memasukkanku ke tempat les piano, padahal aku tak suka bermain musik, aku lebih suka les karate atau taekwondo. Katanya anak perempuan harus belajar yang lemah lembut, dan karate lebih cocok untuk lelaki. Uh kesalnya aku saat itu.

Nenek menyekolahkan Tante Raya ke Makasar sekaligus menentukan jurusannya. Tak ada ruang sama sekali untuk menghirup udara bebas layaknya teman-teman sebaya. Tante Raya tenggelam dalam aktivitas kampus dan meraih predikat lulusan terbaik. Betapa bangga nenek dan keluarga besarku.

“Ini baru Raya-ku. Mama bangga padamu nak…” Nenek memeluk kencang Tante Raya dan senyum tersungging lebar. Tante Raya menitikkan air mata, bukan air mata kebahagiaan tapi jauh daripada itu, dia teringat Om Aryo kekasihnya. Andaikan Aryo ada disini, menantinya keluar dari aula besar nan megah, membawakan sebuket bunga mawar merah dan senyum terkembang. Tapi sayang, hanya dalam angan-angan. Om Aryo pergi sehari sebelum hari wisuda. Dalam perpisahan itu, tak ada kata, hanya bulir air mata yang mengalir deras.



Aku tak mau menyerah semudah ini, tapi kurasa ini yang terbaik.

Perpisahan bukan akhir segalanya.

Bilamana jodoh dalam genggaman kita, insyaallah takdir kan mempertemukan.

Tak apalah merasa sakit sekarang, bila bahagia kelak yang didapat.

Kebahagiaan yang sesungguhnya.

Aku sayang Kamu, Ray.



--dari yang mencintaimu “Aryo--


(secarik kertas yang diberikan di bandara, detik-detik menuju perpisahan)



Selesai kuliah, Tante Raya mengajar di beberapa kampus sampai akhirnya mengambil kuliah pascasarjana ke Yogyakarta. Awalnya Nenek tak setuju, tapi berkat usaha yang gigih mengatasnamakan sekolah, disetujui juga. Nenek pun berkali-kali ingin menjodohkan Raya tapi tak ada respon. Raya lebih memilih sibuk dengan berbagai penelitian kampusnya. Tak terpikirkan sedikit pun untuk menikah padahal sudah banyak lelaki yang mendekatinya.



YOGYAKARTA

Yogyakarta sudah di depan mata. Sekelebat dia teringat sosok Aryo, seorang pemuda sederhana berhati lembut, pintar dan memiliki pengetahuan agama yang luas. Dulu saat perpisahan terjadi, Aryo berkata akan pulang ke Yogyakarta, mencari kehidupan lain di tanah Jawa. Raya cepat-cepat tersadar, karena dia tau hidup mereka sudah jauh berbeda.

Dalam suratnya beberapa tahun lalu saat Raya baru saja lulus S1. Maafkan aku Ray,harus kupilih hidupku sekarang. Pernikahan itu telah terjadi seminggu yang lalu. Dia anak kerabat jauhku dari Yogya. Kuharap takdir berkata lain, tapi biarlah sekarang kuikuti langkah ini. Tak ada yang tau takdir setiap hambanya. Tak ada yang tau dengan siapa Tuhan menjodohkan kita. Aku mau kamu, tapi ternyata Tuhan belum mengijinkannya. Tetapi kemungkinan itu selalu ada kan Ray. Aku selalu mencintaimu sampai kapan pun.

Raya tak mau mengganggu, sekalipun di ujung hatinya ada secuil harapan. Harapan untuk kembali mewujudkan cintanya, bersanding dengan lelaki pujaan hati.

Kuliah pascasarjananya sudah dimulai, berbagai penelitian pun dilakukan untuk menunjang tugas-tugas. Berkaitan dengan jurusan yang diambil yaitu di bidang kesehatan, salah satu narasumbernya adalah seorang ibu muda beranak satu yang divonis memiliki penyakit kanker payudara stadium 2. Hubungan mereka tak hanya sebatas peneliti dan narasumber, tetapi semakin dekat. Raya mengagumi sosoknya. Sederhana, penuh semangat dan tak pernah mengeluh. Dari cerita si ibu, suaminya memiliki usaha kecil-kecilan servis komputer. Sementara itu sang istri bekerja di pabrik pengolahan bakpia dekat rumah, tetapi sekarang ini kesehatannya agak terganggu, mudah sakit dan melemah. Biaya sehari-hari tidak mencukupi lagi untuk pengobatan si ibu. Berbagai terapi, pengobatan alternaternatif dan macam-macam cara sudah dilakukan tapi penyakitnya semakin tak ada kemajuan.

“Saya pasrah saja pada Gusti Allah mbak, terserah mau diparingi apa. Sekarang ini saya cuma berpikir untuk terus bekerja. Anak saya masih kecil, ndak tau apa bisa sekolah tinggi seperti mbak. Saya cuma mikirin keluarga, ndak lebih…” kalimatnya yang begitu dalam tatkala Raya menemani si ibu kontrol di rumah sakit.

Tak terasa pertemanan itu sudah terjalin beberapa bulan. Raya merasa banyak belajar. Ternyata hidup yang selama ini dia terima hanya sebagian kecil dari sebuah perjuangan. Hidup bukan hanya untuk cinta, tetapi cintailah hidupmu.

“Pernikahan saya dijodohkan lho mbak. Waktu itu saya ndak tau siapa calon suami saya. Seminggu mau nikah, saya baru liat mukanya. Namanya saja saya baru tau kok…” matanya menerawang. Belakangan mereka saling memanggil dengan sebutan mbak, supaya lebih akrab.

“Kok mbak Suriah ngga nolak, malah nerima gitu aja. Pasrah banget.” Raya masih tak habis pikir.

“Kata orangtua saya, Mas Aryo itu orangnya baik dan agamanya juga bagus. Dia itu masih ada hubungan darah sih sama saya, mbah buyutnya dia sama mbah buyut saya kakak beradik. Ya wis mbak, saya manut saja sama ibu bapak.” nada bicaranya datar tapi sesekali ada senyuman di sudut bibir tipisnya.

Mas Aryo. Dada Raya berdegup kencang tatkala mendengar Suriah menyebut nama itu. Aah mungkin itu Haryo yang lain, ada puluhan bahkan ribuan nama panggilan Aryo di Yogyakarta ini.

“Dan bener mbak, pilihan orangtua saya tepat. Mas Aryo memang orangnya baik, ndak macem-macem. Ngajinya juga bagus. Dia orangnya pekerja keras, ndak banyak ngeluh, itu yang saya suka. Apalagi waktu saya ketauan kena kanker, Mas Aryo ndak berubah. Saya beruntung mbak.” kulihat bola matanya basah, menahan si bulir air mata yang akan turun.

Ya, beruntungnya Suriah. Memiliki keluarga yang luar biasa, sederhana tapi penuh kebahagiaan. Anak yang lucu dan manis serta suami yang pengertian. Dalam hati kecil Raya, ada sedikit rasa iri. Raya sebenarnya jauh lebih beruntung. Memiliki keluarga yang berkecupan, materi yang berlimpah, pendidikan yang tinggi serta kasih sayang dari keluarganya. Hanya ada satu hal yang kurang, Raya tak punya rasa cinta karena rasa itu telah ia kubur dalam-dalam.

Sudah beberapa hari ini Raya tak menemukan Suriah di tempat kerjanya. Ternyata Suriah sakit. Sore itu juga untuk pertama kalinya Raya mendatangi rumah Suriah. Rumah Suriah berada di gang sempit. Kutanya sana sini, dan akhirnya menemukan rumah itu. Rumah sederhana bercat hijau muda, di bagian depan terpampang tulisan “Servis Komputer dan Alat-alat Listrik”. Sebuah motor bebek tua terparkir disana.

Kuucap salam sambil mengetuk pintu. Terdengar suara dari dalam disertai derap langkah kaki. Pintu terbuka dan jantung Raya seakan berhenti. Aryo. Deg. Raya masih ingat wajah itu. Wajah kekasihnya. Si pemilik rumah pun tak kalah kaget, walaupun sekarang Raya sudah dibalut jilbab, tapi kuyakin dia masih mengenalinya.

Ya, Aryo adalah suami Suriah. Mas Aryo biasa Suriah menyebutnya. Inilah suaminya yang sederhana dan tidak pernah mengeluh itu. Ya, sekarang Raya tau betapa beruntungnya Suriah. Bahwa hidupnya ada di tangan seorang lelaki yang luar biasa. Lelaki itu juga pernah ada di dalam hidupnya, walaupun belum bisa memiliki sepenuhnya. Raya tidak marah, tidak kesal atau sakit hati. Raya malah beruntung mengenal Suriah.

Raya dan Dian, putri tunggal Suriah berjalan menuju pemakaman umum. Genap satu minggu kepergian Suriah dan tadi malam acara tahlilannya. Dian memegang erat tanganku, layaknya ibu dan anak. Kondisi Suriah memburuk setelah diketahui kankernya sudah berada di tahap stadium akhir. Begitu cepat Tuhan menjemputnya, meninggalkan orang-orang tersayang.

“Bulik Raya, Bu’e sekarang udah di surga ya ?? Dian bisa ketemu ngga nanti ??” kalimat polos yang meluncur dari bibir anak usia 5 tahun.

“Ia sayang, Dian pasti bisa ketemu lagi sama Bu’e. Dian harus rajin shalat dan selalu doain Bu’e..” suara Raya agak tercekat, bergetar hebat.



SATU TAHUN KEMUDIAN DI KENDARI

Tante Raya sangat cantik hari ini, dalam balutan busana pengantin putih. Bersanding khidmat dengan seorang lelaki yang kupanggil Om Aryo. Disampingnya berdiri seorang anak kecil bernama Dian, membawakan bunga mawar putih. Keluarga yang bahagia.

Sejak tadi malam, senyumnya selalu merekah, menampakkan barisan gigi putih nan rapi. Kutau ada buncahan kebahagiaan dalam dadanya. Penantian yang berujung indah, kisah cinta sejati dan takdir dua anak manusia.

Nenek dan keluarga besarku pada akhirnya merestui cinta mereka. Cinta yang tertunda. Takdir setiap manusia memang sudah tertulis di catatan milik Tuhan termasuk urusan tentang pasangan hati. Aku pun masih belum tau siapa kelak jodohku, sekalipun sudah ada Anton disini. Lelaki yang setahun belakangan ini menemani langkahku, menjadi si penyemangat.

“Tante cantik banget. Kerudungnya pas sama warna bajunya..” aku memandangi Tante Raya, besok adalah hari bahagianya. Hari yang dinantikan selama bertahun-tahun. Penantian berkepanjangan dalam mencari kebahagiaan seorang anak manusia.

“Makasih Nina sayang. Bentar lagi kamu yang akan ada disini dan gantian Tante yang nungguin kamu.” Tante Raya mencubit pelan kedua pipiku.

Kutatap lagi wajah tanteku, semakin berbinar-binar. Ya Rabb, bahagiakan pernikahan keduanya, sempurnakan iman islam mereka, lingkupilah kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin. Hanya doa yang bisa kupanjatkan untuk keduanya.